Djoko Suud Sukahar
Jakarta - Isu kiamat berakhir sudah. Hari ini dunia masih utuh. Segalanya berjalan normal. Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang mengejutkan. Hanya mungkin kejutannya nanti di akhir tahun. Pergantian tahun diramaikan secara istimewa. Sebagai bukti syukur, bahwa ternyata kiamat ditunda.

Kiamat pastilah tiba. Itu tersurat dalam banyak kitab suci. Dalam agama samawi, sebelum hari akhir tiba, banyak tanda-tanda. Kegaduhan tak terperi, tampilnya sosok Imam Mahdi, planet kehilangan rotasi, langit dan bumi tergulung tatkala malaikat Izrail meniup terompet sebagai penutup hari akhir.

Keyakinan itu menempatkan posisi malaikat Izrail sebagai grade tertinggi dalam maqom sufi. Dia cerminan watak terbaik di antara 200 manusia terbaik. Manusia yang total berbakti kepada Tuhan, seperti tersurat dalam Ordo Christiyyah. (Sebagai catatan, ordo ini meyakini, sekacau apapun dunia ini, masih tersisa 200 manusia baik dengan tingkah-lakunya seperti nabi dan malaikat).

Namun dalam pemahaman budaya, kiamat tidaklah terjadi seperti itu. ‘Kiamat’ kali ini contohnya. Tanggal 21-12-2012 merupakan ‘tutup buku’ dari sebuah almanak Suku Maya. Sebuah suku berkebudayaan tinggi di-era-nya, mempunyai hitungan terhadap banyak hal, yang hitung-hitungannya dijadikan patokan bagi banyak pihak yang menyukai dunia symbol.

Di Jawa, ‘kiamat’ seperti ini sudah berulang terjadi. Tahun 1945-an memunculkan banyak tokoh marjinal seperti Gerakan Ngaisah, tahun 1966 ketika kegaduhan politik melahirkan Mbah Suro, dan di tahun 1999 ‘kiamat’ juga diasumsikan tiba sehingga orang-orang berduyun-duyun membangun tenda di Alas Purwo untuk keselamatan diri. Kenapa Alas Purwo Banyuwangi?

Itu karena tahun 1999 merupakan tahun akhir dari sumpah Sabdo Palon Noyo Genggong. Sosok penasehat spiritual raja Majapahit terakhir yang masuk agama Islam. Dia merelakan sang raja memeluk Islam. Dia kembali ke asalnya sebagai ‘Ratu Demit’, yang kerajaannya, dalam mitologi ‘Islam Jawa’ disebut berada di Alas Purwo.
Sabdo Palon Noyo Genggong tidak sekadar memisahkan diri dengan sang raja. Tokoh ini juga meluapkan sumpah. Katanya, jika saatnya tiba, maka Pulau Jawa akan dibuatnya porak-poranda. Mayat bergelimpangan. Pagebluk (wabah penyakit) terjadi dimana-mana. Pagi sakit sore mati. Itu karena pasukan Sabdo Palon Noyo Genggong yang terdiri dari berbagai jenis setan dan jin mulai melaksanakan dendamnya. Menagih janji.

Dalam untaian prahara itu juga disebut ‘Serat Sabdo Palon Noyo Genggong’, bahwa untuk menangkal bencana itu, langkah yang harus dilakukan manusia adalah bergabung. Bergabung dalam komunitas Sabdo Palon Noyo Genggong. Berada di ‘istananya’, yaitu Alas Purwo. Itulah alasan, mengapa ribuan manusia membangun tenda di Alas Purwo yang menimbulkan kegaduhan kala itu.

Realitas dari ‘mitos yang diyakini’ itu acap memberi cap manusia Jawa sebagai ‘manusia nglenik’. Itu tak salah. Namun di tengah zaman yang sangat maju sekarang ini, dan berakhirnya almanak Suku Maya menimbulkan kegoncangan di berbagai penjuru dunia, rasanya tidak beralasan jika ‘nglenik’ hanya prerogatif orang Jawa.
‘Nglenik’ hakekatnya adalah mempercayai kegaiban. Setiap manusia beragama, wajib hukumnya percaya dengan kegaiban. Gaib, yang secara metafisis berarti di luar jangkauan akal manusia. Percaya Tuhan, malaikat, hari kiamat salahsatunya.

Serpihan dari kepercayaan-kepercayaan itu yang mengindoors dan bersimbiose dengan keyakinan lama, yang kemudian memunculkan penafsiran-penafsiran baru.
Geger tentang ‘kiamat’ kali ini merupakan bagian dari itu. Percaya tidaknya kiamat bukan bergantung pada cerdas atau tumpulnya logika, tetapi lebih pada ranting dari sebuah pohon besar yang disebut agama. Mereka tidak salah jika percaya kiamat datang lebih dini. Begitu juga dengan yang percaya kiamat tiba seperti yang diyakini pemeluk agama samawi.

Tetapi mengapa manusia percaya tentang ini? Sebagai pemeluk Islam, maka Surat An-Nas telah memberi siratan makna yang tegas, bahwa manusia itu mempunyai keraguan tingkat tinggi. Setan berkeliaran sampai detak jantungnya. Menggoda dari sana, dan manusia pun terombang-ambing akal dan perasaannya.

Untuk itu, menyikapi ‘kiamat-kiamat’ lain yang akan berdatangan lagi, maka kita perlu melihat tanda-tanda yang menyertai. Tanda yang sudah terpampang jelas dalam kitab suci, seraya berdoa agar kita tidak sampai melihat hari akhir itu tiba. Hari yang disebut sebagai hari-hari yang tinggal dihuni manusia-manusia terjelek.
*) Djoko Suud Sukahar, pengamat sosial budaya\
detikNews

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Tinggalkan Jejak Dengan komentar Yang Baik

 
Top